Ketika Naga Bertemu Bulan Sabit: Menguak Tabir Hubungan China dan Dunia Islam
1/19/20265 min read


Pada 1497, Di pelabuhan Lisbon, Portugal, seorang penjelajah bernama Vasco da Gama sedang mempersiapkan armada kapalnya. Layar-layar dikembangkan, doa-doa dipanjatkan. Misi mereka adalah legenda yang kita pelajari di buku-buku sejarah: mencari rute laut ke “Timur”, menuju tanah India yang kaya akan rempah-rempah dan emas.
Ketika da Gama berhasil mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan memasuki Samudera Hindia, narasi sejarah Barat sering menggambarkan momen ini sebagai “penemuan” dunia baru. Seolah-olah sebelum kapal Eropa membelah ombak Samudera Hindia, perairan itu sunyi, misterius, dan tak bertuan.
Namun, dokumen sejarah mengungkap sebuah fakta berbeda, sebuah detail kecil yang akan mengubah cara pandang kita. Ketika Vasco da Gama tiba di pantai Afrika Timur, dia tidak “menemukan” jalan ke India sendirian. Keberhasilannya bergantung sepenuhnya pada keahlian seorang navigator Muslim.
Navigator ini tidak melihat lautan itu sebagai wilayah asing yang menakutkan. Bagi dia, dan bagi ribuan pelaut Arab, Persia, India, dan China, Samudera Hindia adalah “jalan tol” tersibuk di dunia saat itu. Itu rute perdagangan laut terpanjang yang menghubungkan Afrika Timur, Semenanjung Arab, India, Asia Tenggara, hingga China.
Dunia tidak sedang menunggu untuk ditemukan oleh Eropa. Dunia—khususnya Asia—sudah saling terhubung dalam jaring-jaring pengetahuan dan perdagangan yang rumit selama berabad-abad.
Mari kita tinggalkan Vasco da Gama sejenak. Kita tidak peduli apa yang dia ketahui. Kita akan mencoba melihat dunia melalui mata sang navigator Muslim itu. Kita akan menyelami kisah cinta, konflik, dan pertukaran ilmu antara dua raksasa peradaban masa lalu: China dan Dunia Islam.
Dua Matahari di Langit Abad Pertengahan
Untuk memahami betapa mundurnya Eropa saat itu jika dibandingkan dengan Asia, kita perlu melihat peta kekuatan dunia antara 700 hingga 1500 Masehi. Sementara Eropa masih merangkak keluar dari apa yang sering disebut “Zaman Kegelapan” dengan pandangan dunia yang sempit, di Timur terdapat dua peradaban yang sedang berada di puncak kejayaan. Di satu sisi ada China (di bawah dinasti Tang, Song, Yuan, dan Ming), dan di sisi lain ada Dunia Islam (di bawah Kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, hingga Timurid).
Hubungan mereka bukan sekadar pedagang yang saling bertransaksi barang. Hubungan mereka adalah hubungan simbiosis yang mengubah wajah sains dan teknologi dunia.
Di pasar-pasar di Baghdad atau Damaskus, para saudagar Muslim tidak hanya membeli sutra dan porselen dari China. Tanpa disadari, mereka juga “membeli” teknologi yang akan mengubah peradaban Islam: kertas dan kompas. Kertas dari China-lah yang kemudian memicu “Zaman Keemasan” ilmu pengetahuan Islam, memungkinkan buku-buku disalin dan disebarkan dengan murah, jauh sebelum mesin cetak Gutenberg ada di Eropa.
Sebaliknya, apa yang dicari orang China dari Dunia Islam? Selain rempah-rempah dan wewangian, para sarjana China sangat haus akan pengetahuan. Mereka menyerap ilmu astronomi, matematika, teknik, dan kedokteran yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim.
Ini adalah era di mana “Globalisasi” sudah terjadi, ratusan tahun sebelum istilah itu diciptakan.
Dari “Terra Incognita” Menjadi “Terra Cognita”
Salah satu fakta paling menarik adalah bagaimana kedua peradaban ini perlahan-lahan “belajar” tentang satu sama lain. Pada 750 M, pengetahuan geografi masih sangat kabur. Orang China tidak punya peta Dunia Islam, dan orang Muslim tidak punya peta China.
Bagi orang China, dunia di barat sana adalah misteri. Mereka menyebut orang Arab sebagai “Dashi”. sebuah istilah yang mungkin terdengar asing bagi kita, tetapi itulah cara lidah Tiongkok kuno menyebut kekuatan baru yang bangkit di gurun pasir. Bagi orang Arab dan Persia, China adalah negeri di ujung dunia. Mereka menyebutnya “Chin” (diambil dari nama Dinasti Qin yang berkuasa ratusan tahun sebelumnya), yang kemudian menjadi “al-Sin” dalam bahasa Arab. Dari sinilah asal kata “Sino” yang kita gunakan hari ini.
Namun, selama 800 tahun berikutnya, terjadi metamorfosis yang luar biasa. Ketidaktahuan (terra incognita) berubah menjadi pengetahuan mendetail (terra cognita).
Bagaimana mereka melakukannya? Bukan dengan satelit, melainkan dengan keringat dan keberanian.
Para pedagang, diplomat, dan pelancong menempuh ribuan kilometer, membawa pulang cerita. Salah satu pahlawan awal dalam kisah ini adalah Sima Qian, sejarawan agung China. Dia mencatat laporan tentang Kekaisaran Parthia (di wilayah Iran/Irak sekarang) yang disebutnya “Anxi”.
Bayangkan kekaguman orang China kuno ketika membaca laporan Sima Qian: “Mereka menanam gandum dan membuat anggur dari buah anggur... Mereka menggunakan koin perak dengan wajah raja mereka... Dan mereka menulis secara horizontal di atas kulit!”
Bagi orang China yang terbiasa menulis vertikal di atas bambu atau sutra, membayangkan orang menulis mendatar di atas kulit adalah hal eksotis. Laporan-laporan semacam inilah yang mengubah “negeri dongeng penuh monster” menjadi negeri nyata yang dihuni manusia dengan peradaban tinggi.
Peta yang Memalukan Eropa
Jika Anda ingin bukti betapa majunya pengetahuan geografi Asia jika dibandingkan dengan Eropa saat itu, lihatlah peta-peta mereka.
Ada dua peta yang luar biasa. Pertama, peta Al-Idrisi (1154 M). Dia Seorang geografer Muslim yang menggambar peta dunia dengan sangat akurat. Dia menempatkan Semenanjung Arab di tengah, dan dia sudah tahu persis bentuk garis pantai Laut Tengah hingga ke Samudera Hindia serta China. Kedua, Peta Kangnido (1402 M). Ini sebuah peta yang dibuat di Korea, berdasarkan peta-peta China dari zaman Mongol. Peta ini sudah menggambarkan bentuk benua Afrika dan Semenanjung Arab dengan sangat jelas!
Bandingkan dengan peta Eropa di masa yang sama. Orang Eropa masih menggunakan peta “T-in-O” yang sederhana, di mana dunia hanya dibagi menjadi tiga secara kasar, dan wilayah Timur (Asia) digambarkan sebagai Taman Eden atau tanah monster. Ketika orang Eropa masih berdebat tentang bentuk dunia, para kartografer di China dan Dunia Islam sudah menggambar garis pantai Afrika dengan tinta di atas kertas. Inilah “akumulasi kebijaksanaan” yang nantinya, ironisnya, membantu orang Eropa seperti da Gama menjajah Asia.
Ketika Jalur Darat Menjadi Jalur Laut
Sejarah seringkali dibentuk oleh konflik. Pada 750 M, terjadi pergeseran besar. Dinasti Tang yang sedang meluas ke barat bertabrakan dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang meluas ke timur. Mereka bertemu di Asia Tengah.
Konflik politik di Asia Tengah ini membuat Jalur Sutra darat (overland Silk Road) menjadi tidak aman dan perlahan meredup. Namun, seperti air yang selalu mencari jalan, perdagangan tidak pernah mati. Ia hanya berpindah.
Inilah momen ketika “Jalur Sutra Laut” (Maritime Silk Road) lahir dan meledak.
Sejak abad ke-8 M, Samudera Hindia menjadi panggung utama. Kapal-kapal layar mulai menggantikan unta. Setelah 750 M, terjadi pertumbuhan dramatis dalam kontak maritim.
Mengapa ini penting bagi kita? Ini karena Indonesia berada tepat di tengah-tengah jalur ini! Kita tahu bahwa kapal-kapal yang berlayar dari Teluk Persia ke Guangzhou pasti melewati Selat Malaka. “Middlemen” atau perantara dari Asia Tenggara disebut memegang peran penting dalam perdagangan awal ini.
Kita Adalah Pewaris Koneksi
Apa yang bisa kita pelajari dari tumpukan fakta sejarah ini?
Sejarah dunia ternyata bukan dimulai pada 1492. Jauh sebelum Christopher Columbus atau Vasco da Gama membentangkan layar, nenek moyang kita di Asia—dari Baghdad hingga Beijing, melewati Nusantara—sudah membangun sebuah “dunia yang saling terhubung” (interconnected world).
Mereka tidak hanya bertukar sutra dan keramik. Mereka bertukar ide. Mereka saling belajar cara membuat peta, cara meracik obat, dan cara memandang bintang.
Kisah navigator Muslim yang memandu Vasco da Gama bukanlah kisah tentang “pembantu” yang terlupakan. Itu simbol dari transfer ilmu pengetahuan. Tanpa pengetahuan yang dikumpulkan oleh geografer Muslim dan China selama 800 tahun sebelumnya, “Zaman Penjelajahan” Eropa mungkin tidak akan pernah terjadi, atau setidaknya, akan berjalan jauh lebih lambat.
Sebagai pembaca, kita perlu mengingat bahwa globalisasi bukanlah penemuan Barat. Ia adalah warisan lama di mana peradaban Islam dan China pernah menjadi poros utamanya.
Sumber Bacaan
Park, Hyunhee. 2012. Mapping the Chinese and Islamic Worlds: Cross-Cultural Exchange in Pre-modern Asia. Cambridge: Cambridge University Press.


