Jejak Islam di Sisilia: Warisan Terlupakan di Jantung Mediterania
1/5/20265 min read


Ketika membicarakan sejarah Eropa, terutama negara-negara di kawasan Mediterania seperti Italia atau Spanyol, kita cenderung mengabaikan masa lalu Islam yang pernah mewarnai wilayah tersebut. Jejak Islam di tempat-tempat seperti Sisilia, Malta, atau Italia selatan padahal sangatlah signifikan. Sejarawan modern mulai menyadari bahwa kita tidak bisa memahami sejarah Eropa abad pertengahan tanpa melihat kehadiran penting Muslim di sana.
Mari kita menelusuri periode unik dalam sejarah Sisilia, tepatnya dari pertengahan abad ke-11 hingga akhir abad ke-12. Inilah masa ketika penguasa Kristen dari dinasti Hauteville (bangsa Norman) mengambil alih pulau tersebut dari tangan penguasa Muslim dan menariknya membangun sebuah kerajaan yang sangat kental dengan nuansa budaya Islam dan Bizantium.
Sisilia Sebelum Kedatangan Bangsa Norman
Untuk memahami apa yang terjadi di Sisilia, kita harus melihat dulu kondisi pulau itu sebelum kedatangan bangsa Norman. Pada 1040-an, pemerintahan Islam di Sisilia yang disebut Emirat Kalbid—yang memerintah atas nama Dinasti Fatimiyah dari Mesir—mengalami keruntuhan dari dalam.
Akibat keruntuhan ini, Sisilia terpecah menjadi entitas-entitas politik kecil yang otonom. Kota-kota besar seperti Palermo, Syracuse, Catania, Agrigento, dan Mazara masing-masing memiliki penguasanya sendiri. Situasi ini mirip dengan apa yang terjadi di Spanyol (Al-Andalus) dengan munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang disebut taifa. Ketegangan dan persaingan antar-penguasa kota ini sering terjadi. Dalam salah satu konflik inilah, seorang tokoh bernama Ibn al-Thumna meminta bantuan kepada para tentara bayaran asal Norman yang telah menetap di daratan Italia. Keputusan Ibn al-Thumna ini membuka pintu bagi masuknya kekuatan baru yang kelak akan mengubah wajah Sisilia selamanya.
Penaklukan Norman: Bukan Perang Salib
Dua bersaudara dari keluarga Hauteville, Robert dan Roger Guiscard, memimpin penaklukan Sisilia. Namun, perlu dicatat bahwa penaklukan ini bukanlah bagian dari “Perang Salib”, dan juga bukan sebuah upaya “Reconquista” (penaklukan kembali) seperti yang terjadi di Spanyol. Mengapa? Karena sebelum dikuasai Islam, Sisilia adalah provinsi Bizantium, bukan milik Gereja Latin Roma secara langsung. Meskipun mendukung upaya ini dari kejauhan, Paus sendiri sebenarnya memiliki hubungan yang buruk dengan bangsa Norman.
Penaklukan ini bukanlah tugas yang mudah. Prosesnya memakan waktu lama, dari 1061 hingga 1092, dan berjalan perlahan-lahan. Teks-teks sejarah dari masa itu hampir tidak menyebutkan “perang suci”. Sebaliknya, penaklukan ini lebih digambarkan sebagai kejayaan bangsa Norman yang berhasil menguasai wilayah baru.
Yang membuat situasi ini unik dalam sejarah adalah posisinya yang terbalik. Biasanya, umat Muslim yang tinggal di Eropa pada abad pertengahan hanyalah kelompok minoritas. Namun di Sisilia, untuk pertama kalinya, sekelompok kecil penakluk Kristen Latin (Norman) harus memerintah populasi Muslim yang merupakan mayoritas.
Tantangan Memerintah Mayoritas Muslim
Tantangan terbesar bagi penguasa Norman adalah bagaimana mengatur status hukum penduduk Muslim. Dalam dunia Islam, ada konsep ahl al-dhimma, di mana non-Muslim (Kristen dan Yahudi) diperbolehkan tinggal dengan membayar pajak khusus. Namun, dunia Kristen Latin saat itu belum memiliki konsep serupa untuk mengatur warga Muslim. Bagi orang Kristen saat itu, Islam dianggap sebagai ajaran sesat, berbeda dengan Yahudi yang masih dianggap memiliki kaitan sejarah dengan Perjanjian Lama.
Keluarga Hauteville sendiri berada dalam posisi yang sulit. Mereka dianggap sebagai petualang dan orang kaya baru (parvenus), bukan bagian dari dinasti-dinasti Eropa, baik oleh penduduk Italia selatan maupun oleh Paus. Karena itulah, mereka harus sangat kreatif dan inovatif dalam menciptakan sistem pemerintahan agar bisa bertahan dan memanfaatkan kekayaan Sisilia yang strategis.
Mengadopsi Cara Islam dan Bizantium
Solusi yang ditemukan oleh keluarga Hauteville sangat orisinal. Alih-alih menerapkan sistem feodal seperti di Eropa utara, mereka memilih untuk membangun “negara fiskal” (negara berbasis pada pemungutan pajak terpusat). Sistem ini tidak sepenuhnya melanjutkan sistem lama tetapi banyak terinspirasi oleh sistem pemerintahan Dinasti Fatimiyah di Mesir dan Kekaisaran Bizantium.
Salah satu tokoh kunci dalam pembangunan sistem ini adalah George dari Antiokhia. Ia adalah penasihat utama Raja Roger II. George berasal dari Antiokhia dan pernah menjadi pejabat di sistem keuangan Ifriqiya (Afrika Utara), sehingga sangat paham seluk-beluk perpajakan Islam. Biografi George dalam sumber-sumber Arab bahkan menyebutkan bahwa ia bertugas mengumpulkan pendapatan dan meletakkan dasar-dasar kerajaan.
Menariknya, para pejabat tinggi yang mengurus administrasi dan paham bahasa Arab di istana Norman bukanlah orang Muslim asli Sisilia. Mereka umumnya adalah orang Kristen (atau yang sudah berpindah agama) yang berasal dari luar Sisilia, atau para budak dan kasim. Mengangkat budak atau orang asing ke posisi tinggi adalah praktik yang umum dalam pemerintahan Islam dan Bizantium, dan keluarga Hauteville meniru strategi ini.
Prinsip sistem pajak Islam pun dibalik. Kini giliran orang Yahudi dan Muslim yang harus membayar pajak khusus (jizya) sebagai tanda ketundukan serta pajak tanah. Untuk mengelola ini, dibentuklah kantor-kantor pemerintahan (diwan) yang mencatat daftar wajib pajak dan batas-batas wilayah. Dokumen-dokumen administrasi ini menariknya ditulis dalam bahasa Arab atau dwibahasa Arab-Yunani.
Kehidupan Hukum dan Sosial
Dalam hal hukum perdata, keluarga Hauteville membiarkan setiap komunitas—Yahudi, Kristen, dan Muslim—mengatur diri mereka sendiri sesuai hukum masing-masing. Dokumen notaris dari Palermo menunjukkan bahwa hakim-hakim Muslim (qadi) masih aktif bertugas sepanjang abad ke-12, memutuskan perkara berdasarkan mazhab Maliki.
Di pedesaan, struktur sosialnya cukup beragam. Ada tokoh-tokoh lokal yang disebut quwwad (bentuk jamak dari qa’id, yang berarti pemimpin atau perwira) yang berperan sebagai perantara antara rakyat dan pemerintah, terutama dalam urusan pajak. Meskipun istilah-istilah yang digunakan terdengar sangat Islami, para penguasa Norman seringkali menciptakan makna baru atau menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka sendiri.
Istana yang “Islami”
Aspek paling menarik dan sering disalahpahami dari Sisilia era Norman adalah kehidupan istananya. Istana raja-raja Norman dipenuhi dengan elemen-elemen yang bagi mata kita saat ini terlihat sangat Islami. Namun, kita tidak boleh terjebak untuk melabeli ini semata-mata sebagai “toleransi budaya”. Ini adalah strategi politik.
Raja-raja Hauteville menggunakan bahasa Arab untuk mengagungkan diri mereka. Bahasa Arab muncul dalam puisi-puisi pujian, prasasti di bangunan, dan bahkan gelar raja. Gelar raja seringkali menggunakan istilah Islam seperti malik (raja), namun dicampur dengan pernyataan Kristen, seperti “pelindung yang dibantu Tuhan” atau pejuang bagi Kekristenan.
Prasasti bahasa Arab bahkan ditemukan di gereja-gereja Kristen di Palermo, seperti di Kapel Palatina (Cappella Palatina). Ini menunjukkan adanya komunitas Kristen Arab yang kuat di sekitar istana yang menggunakan bahasa Arab untuk mengekspresikan iman Kristen mereka.
Selain bahasa, gaya hidup raja juga meniru penguasa Timur. Raja jarang tampil di depan umum, dan jika muncul, seringkali memakai cadar atau payung kebesaran—simbol-simbol yang oleh penulis Arab dianggap khas Islam. Pakaian kebesaran raja dibuat di pabrik istana yang meniru sistem tiraz dalam dunia Islam, lengkap dengan tulisan Arab yang disulam.
Keberadaan para kasim (eunuchs) di istana juga sangat mencolok. Di Eropa Latin, praktik mempekerjakan kasim tidak dikenal. Namun di Sisilia, para kasim memegang jabatan tinggi, memimpin pasukan, dan mengelola harta benda raja. Bagi bangsawan Latin lainnya, keberadaan kasim ini dianggap aneh dan bahkan menyalahi kodrat, namun bagi Hauteville, ini cara untuk mensejajarkan diri dengan kekaisaran besar lain di Mediterania seperti Bizantium atau Fatimiyah.
Ambisi Kekaisaran dan Strategi Mediterania
Semua simbol dan kemegahan ini bukan tanpa tujuan. Keluarga Hauteville ingin dilihat sebagai kekaisaran besar. Penggunaan kasim, gelar Arab, dan gaya istana yang mewah adalah pesan politik yang ditujukan tidak hanya untuk rakyatnya, tetapi juga untuk tamu asing dan penguasa negara lain.
Secara militer, mereka menerapkan “strategi selat”. Mereka ingin menguasai jalur-jalur sempit strategis di Mediterania, seperti Selat Otranto, Selat Messina, dan Selat Sisilia. Ambisi ini bahkan membawa mereka berekspansi ke Afrika Utara. Mereka menguasai kota-kota pantai di sana, di mana penduduknya juga membayar pajak jizya kepada raja Sisilia, dan para gubernurnya menerima jubah kehormatan dari Palermo.
Kesimpulan
Sejarah Sisilia di bawah kekuasaan Norman pada abad ke-11 dan 12 adalah sebuah anomali yang menakjubkan dalam sejarah Eropa. Ia bukanlah sekadar kelanjutan dari masa Islam, bukan pula sepenuhnya Eropa Latin. Ia adalah sebuah eksperimen politik di mana penguasa Kristen mengadopsi dan memodifikasi instrumen pemerintahan Islam dan Bizantium untuk membangun kekuasaan absolut.
Di balik kemegahan seni dan arsitektur yang memadukan berbagai budaya, terdapat realitas politik yang pragmatis: sebuah negara fiskal yang efisien, toleransi hukum yang terukur, dan ambisi kekaisaran yang melampaui batas pulau. Warisan ini mengingatkan kita bahwa sejarah Mediterania tidak pernah hitam-putih, melainkan sebuah anyaman rumit dari berbagai peradaban yang saling meminjam, meniru, dan bersaing.
Sumber Bacaan
Tottoli, Roberto (Editor). 2015. Routledge Handbook of Islam in the West. New York: Routledge.


