"Islam Melawan Barat" Itu Dagangan Kedaluwarsa

Hamid Dabashi membaca ulang dua abad perlawanan Muslim pada kolonialisme, dan menyimpulkan: musuh lamanya sudah bubar, dan Bin Laden cuma umpan.

10/27/20264 min read

Pada Jumat, 2 September 2005, George W. Bush berdiri di Biloxi, Mississippi, beberapa hari setelah Badai Katrina menenggelamkan New Orleans. Di depan kamera CNN ia berkata, "People of this part of the world ought to know that Americans care." Orang-orang di bagian dunia ini, padahal ia sedang berdiri di negaranya sendiri.

Hamid Dabashi, guru besar kajian Iran di Universitas Columbia, menonton siaran itu dan menjadikannya pembuka bukunya, Islamic Liberation Theology: Resisting the Empire (Routledge, 2008). Baginya keseleo lidah itu justru kalimat paling jujur yang pernah diucapkan Bush. Di layar televisi, orang kulit hitam miskin dan lapar berkeliaran di antara mayat tetangga mereka, dijaga tentara bersenjata berat yang kebanyakan kulit putih. Gambarnya nyaris tak bisa dibedakan dari Baghdad atau Kandahar. "Di mana 'Dunia Ketiga' sekarang?" tanya Dabashi. Selama ini ia selalu ada di "bagian dunia yang itu". Tidak pernah diduga ia ada di Mississippi.

Dari gambar itu Dabashi membangun tesis yang terdengar ganjil bagi kebanyakan orang. Pada 2008, saat Perang Irak masih panas, pertarungan "Islam melawan Barat" menurutnya sudah selesai. Keduanya runtuh bersamaan. Yang kita tonton sekarang hanya asapnya.

Dua abad yang lahir dari laras senapan

Cara Dabashi berargumen adalah dengan menelusuri silsilah. Ia menyusun rantai tokoh dan menunjukkan apa yang mereka hadapi. Dari Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha di Mesir; Mawdudi di India jajahan Inggris; Sayyid Qutb yang marah pada pendudukan Palestina; sampai deretan ulama Iran, dari Mulla Ahmad Naraqi yang mengerahkan orang melawan Rusia pada awal abad ke-19, Mirza Syirazi yang mengharamkan tembakau untuk membatalkan konsesi tembakau yang diberikan kepada Inggris pada 1889, Na'ini, lalu Khomeini. Pola yang ia temukan selalu sama: setiap gagasan Islam politik itu dirumuskan sambil menatap tentara asing di halaman depan.

Dari situ ia menyerang tuduhan yang paling sering dilontarkan pada para pemikir itu: bahwa Afghani, Mawdudi, Qutb, Khomeini, dan para pemikir Muslim anti-kolonial lainnya "anti-modern". "Modernitas Eropa datang ke negeri-negeri Muslim lewat laras senapan kolonialisme," tulisnya. Orang yang menolak penjajah dengan sendirinya menolak modernitas yang dibawanya, karena, dalam ungkapannya, keduanya datang dalam satu bungkus dan tidak ada cara menolak yang satu tanpa menolak yang lain. Ia menyandingkan mereka dengan Frantz Fanon dan Aimé Césaire, yang bukan Muslim tapi sama kerasnya mengkritik modernitas kolonial, dan dengan Adorno, Heidegger, Foucault, yang mengkritiknya dari dalam Eropa sendiri setelah Holocaust.

Tamat, dan untung tamat

Menurut Dabashi, perlawanan dua abad yang mengubah Islam menjadi ideologi politik itu sudah berakhir, dan titik akhirnya adalah revolusi Iran. Ideologi Islam berhasil menumbangkan monarki Pahlavi, tetapi Republik Islam gagal menjadi contoh demokrasi bagi kawasan. Revolusinya dikepung: Taliban (bikinan AS, Saudi, dan Pakistan) menutup jalannya ke timur, Saddam Hussein yang disokong AS menutup jalannya ke barat.

Lalu kalimat yang akan membuat banyak pembaca Muslim tersinggung: "Ideologi Islam gagal, dan bagus bahwa ia gagal." Alasannya bukan karena perlawanannya tak sah. Dabashi menganggap perlawanan itu wajar dan perlu. Masalahnya, dalam dua abad bertarung melawan modernitas Eropa, ideologi itu berubah menjadi salinan karbon lawannya: sama absolut, sama arogan, sama fanatik. Yang hilang di perjalanan adalah keragaman mazhab fikih, tasawuf, filsafat, dan tradisi sastra (adab) yang pernah membuat Islam kosmopolitan. Yang paling dikorbankan, hak perempuan. Republik Islam Iran, menurutnya, adalah pratinjau kecil dari apa yang akan terjadi pada seluruh dunia Muslim seandainya proyek itu menang.

Bin Laden sebagai umpan

Di sinilah Dabashi memotong garis yang biasa ditarik lurus dari Qutb ke Al-Qaeda. Baginya Bin Laden bukan pewaris Khomeini. "Jika Ayatullah Khomeini adalah ideolog Muslim terakhir abad ke-20, Osama bin Laden adalah petualang militan Muslim pertama abad ke-21." Khomeini, Afghani, Abduh, suka atau tidak, punya program sosial dan politik. Bin Laden tidak punya apa-apa selain tontonan kekerasan.

Lebih jauh, Dabashi menyebutnya "umpan, tipu muslihat, tabir asap", bahkan "khayalan Pentagon", karena ia dibutuhkan untuk membenarkan perang. Fukuyama, Huntington, dan Bernard Lewis, tulisnya tanpa basa-basi, adalah Zawahiri dan Zarqawi berjas dan berdasi. Al-Qaeda dan Pentagon dua sisi dari koin yang sama bagi warga biasa yang terjepit di antara keduanya. Dabashi mengutuk 9/11 tanpa syarat, tapi menolak membiarkan kemarahan pada Bush berubah jadi simpati pada Bin Laden.

Dan kalau "Islam" sebagai ideologi sudah tamat, "Barat" pun sudah bubar. Dabashi menunjuk runtuhnya Uni Soviet dan lahirnya Uni Eropa sebagai pesaing ekonomi dan militer Amerika. Perpecahan Eropa–AS menjelang invasi Irak 2003 adalah buktinya: tidak ada lagi satu "Barat" yang bisa dijadikan lawan tanding. Runtuhnya Menara Kembar, tulisnya, ikut meruntuhkan "menara kembar" Islam-dan-Barat.

Garis yang sesungguhnya

Lalu di mana garis pertarungannya, kalau bukan antara agama? Dabashi kembali ke Biloxi. Secara struktural, buruh miskin di London, Paris, dan New York berada di posisi yang sama terhadap modal seperti orang terjajah di mana pun. Ia mengutip Cornel West tentang Katrina: "It's not just Katrina, it's povertina." Perlawanan pada imperium, bagi Dabashi, harus menyatukan nasib orang miskin Amerika dengan orang miskin Irak, bukan memisahkannya dengan patriotisme palsu.

Modelnya adalah teologi pembebasan. Ia menarik garis dari Bartolomé de Las Casas yang membela penduduk asli Amerika pada abad ke-16 sampai Gustavo Gutiérrez pada 1972, dan mencatat satu detail yang mengena: pada hari Uskup Óscar Romero dibunuh di San Salvador, 24 Maret 1980, selebaran kebencian di jalanan membandingkannya dengan Khomeini. Musuh-musuh Romero, kata Dabashi, tahu persis apa yang menggerakkan seorang teolog pembebasan, Kristen maupun Muslim. Ia juga menaruh Martin Luther King dan Malcolm X dalam barisan yang sama.

Namun, Dabashi mengakui bahwa bentuk perlawanan yang akan menggantikan ideologi Islam lama "masih terlalu dini untuk dibaca". Ia hanya yakin arahnya, teologi pembebasan baru yang tumbuh dari kantong-kantong kemiskinan, dari Kairo sampai Casablanca sampai ghetto Amerika, bukan dari hukum fikih yang puritan.

Kerangka "Islam vs Barat" masih laku dijual di Indonesia, dari dua arah sekaligus. Dabashi mengajak kita curiga pada siapa pun yang menjualnya, dan mengganti pertanyaannya dengan yang lebih sederhana: siapa yang tidur lapar malam ini, dan siapa yang diuntungkan kalau kita sibuk bertengkar soal peradaban.

Rujukan

Dabashi, Hamid. "Resisting the Empire." Dalam Islamic Liberation Theology: Resisting the Empire, 25–58. London: Routledge, 2008.

Don't miss out on information about our latest products and other benefits by subscribing to our newsletter.

Subscribe