Bukan Sekadar Penerjemah: Kejayaan Sains dan Filsafat Arab di Abad Pertengahan
12/29/20254 min read


Ketika berbicara tentang sejarah ilmu pengetahuan, seringkali narasi yang ada melompat terlalu jauh: dari kejayaan Yunani Kuno langsung ke Renaisans Eropa. Di tengah-tengahnya, peradaban Arab seringkali hanya dianggap sebagai “jembatan” atau “penerjemah”.
Apakah benar demikian? Apakah para ilmuwan Arab hanya menyalin ulang teks Aristoteles dan Galen tanpa menambahkan sesuatu yang baru?
Pandangan yang meremehkan tersebut bahkan pernah diungkap oleh sarjana Eropa seperti Baron Carra de Vaux. Orientalis Perancis ini menganggap bangsa Arab tidak memiliki “imajinasi ilmiah” yang sama dengan bangsa Yunani.
Namun, fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Bangsa Arab bukan sekadar murid bangsa Yunani. Mereka adalah guru yang menyempurnakan aljabar, meletakkan dasar trigonometri, dan mengubah kedokteran serta optik menjadi sains presisi. Tanpa mereka, sains modern yang kita kenal hari ini mungkin tidak akan pernah ada.
Mari kita telusuri perjalanan menakjubkan tersebut, mulai dari Baghdad hingga Andalusia.
Gerakan Penerjemahan
Kisah ini bermula jauh sebelum laboratorium modern ditemukan. Ketika Islam menyebar ke luar Jazirah Arab pada abad ke-7, kaum Muslim mulai berinteraksi dengan pusat-pusat keilmuan Yunani di Mesir dan Suriah. Namun, titik baliknya terjadi di Baghdad.
Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (813–833 M), didirikanlah sebuah institusi legendaris bernama Bayt al-Hikma atau “Rumah Kebijaksanaan”. Di sinilah proyek penerjemahan besar-besaran dimulai. Bayangkan sebuah perpustakaan raksasa tempat buku-buku terbaik dari peradaban Yunani diburu, dikumpulkan, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Salah satu pahlawan pada era ini adalah Hunayn ibn-Ishaq, seorang Kristen Nestorian yang jenius. Ia tidak hanya menerjemahkan karya-karya Plato, Aristoteles, dan Galen, tetapi juga memimpin sebuah tim penerjemah yang bekerja dengan standar ilmiah tinggi—memeriksa dan membandingkan naskah sebelum menerjemahkannya. Berkat usaha mereka, pada akhir abad ke-10, hampir semua karya penting Yunani telah tersedia dalam bahasa Arab.
Namun, bangsa Arab tidak berhenti pada penerjemahan. Ketika kosa kata teknis dalam bahasa Arab mulai terbentuk, mereka mulai mengoreksi, mengkritik, dan memperbaiki karya-karya Yunani tersebut.
Revolusi Matematika dan Astronomi: Dari Angka Nol hingga Optik
Apakah Anda bisa membayangkan berhitung tanpa angka nol atau sistem desimal? Kita berutang budi pada Al-Khwarizmi. Bekerja di Bayt al-Hikma, Al-Khwarizmi memperkenalkan sistem penomoran India (yang kini kita sebut angka Arab) ke dunia Barat. Ia menulis buku yang menjadi fondasi Aljabar—bahkan kata “Aljabar” sendiri diambil dari judul bukunya, dan istilah “algoritma” berasal dari namanya.
Sementara orang Yunani terpaku pada sistem perhitungan yang rumit, bangsa Arab mempopulerkan sistem desimal yang membuat aritmatika menjadi mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Matematikawan seperti Al-Uqlidisi kemudian memperkenalkan pecahan desimal, dan Jabir ibn-Aflah dari Spanyol membawa trigonometri ke tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang pernah diketahui orang Yunani.
Di bidang fisika dan optik, ada Ibn al-Haytham (Alhazen). Ia sosok yang membantah teori Euclid dan Ptolemy yang mengatakan bahwa mata manusialah yang memancarkan cahaya untuk melihat benda. Ibn al-Haytham membuktikan bahwa cahayalah yang bergerak dari benda ke mata. Melalui eksperimen cermin dan pembiasan cahaya, ia bahkan hampir menemukan prinsip lensa pembesar dan menghitung ketinggian atmosfer bumi.
Astronomy juga berkembang pesat, sebagian karena kebutuhan praktis umat Islam untuk menentukan arah kiblat. Meskipun masih menggunakan model bumi sebagai pusat alam semesta (geosentris) ala Ptolemy, para astronom Arab seperti Al-Battani sudah membuat tabel astronomi yang sangat akurat, yang datanya bahkan masih digunakan untuk perbandingan hingga abad ke-18.
Kedokteran: Rumah Sakit dan Dokter-Dokter Jenius
Jika Anda sakit pada abad pertengahan, tempat terbaik untuk dirawat bukanlah di Eropa, melainkan di negeri-negeri Islam. Bangsa Arab mewarisi tradisi medis dari akademi Gondeshapur di Persia lalu mengembangkannya dengan pesat.
Rumah sakit di dunia Arab bukan sekadar tempat penampungan orang sakit. Rumah sakit Al-Mansuri di Kairo, misalnya, didirikan pada 1284 dan mampu menampung 8.000 orang. Fasilitasnya luar biasa modern: bangsal dipisah berdasarkan jenis penyakit (demam, penyakit mata, bedah), ada bagian khusus wanita, perpustakaan, hingga ruang kuliah. Bahkan ada musisi yang bermain untuk menenangkan pasien.
Dua nama raksasa muncul dalam sejarah kedokteran Muslim.
Pertama, Ar-Razi (Rhazes). Ia dikenal sebagai dokter klinis terhebat. Ia menulis ensiklopedia medis raksasa Al-Hawi dan merupakan orang pertama yang membedakan cacar (smallpox) dan campak (measles) secara ilmiah. Ia juga seorang psikolog yang tajam, menulis tentang “mengapa pasien yang ketakutan meninggalkan dokter ahli” dan “mengapa orang lebih suka dukun daripada dokter”.
Kedua, Ibn Sina (Avicenna). Karyanya, Qanun fi at-Tibb (The Canon of Medicine), adalah “kitab suci” kedokteran. Buku ini begitu sistematis sehingga menjadi buku teks utama di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17.
Di Spanyol (Andalusia), muncul Abulcasis (Az-Zahrawi), bapak ilmu bedah modern. Deskripsinya tentang instrumen bedah menjadi referensi utama bagi para ahli bedah selama berabad-abad.
Kimia dan Botani: Eksperimen Menuju Sains Modern
Istilah alkimia sering dikaitkan dengan sihir atau upaya mistis mengubah logam menjadi emas. Namun, bangsa Arab membagi alkimia menjadi dua: yang mistis dan yang ilmiah.
Tokoh misterius bernama Jabir ibn-Hayyan (Geber)—atau para penulis yang menggunakan namanya—meletakkan dasar kimia eksperimental. Dia atau mereka mendeskripsikan metode pemurnian zat kimia, pembuatan asam, dan penggunaan alat-alat laboratorium yang namanya masih kita pakai dalam bahasa Eropa hari ini. Meskipun mereka percaya pada transmutasi logam (mengubah logam biasa menjadi emas), metode eksperimen yang mereka gunakan sangat mirip dengan kimia modern.
Di bidang botani, ilmuwan seperti Ibn al-Baytar dari Malaga mengumpulkan dan mendeskripsikan ribuan jenis tanaman, yang sebagian besar digunakan untuk tujuan farmasi dan pengobatan.
Filsafat: Mendamaikan Wahyu dan Akal
Perjalanan filsafat di dunia Arab adalah kisah tentang ketegangan dan sintesis antara agama dan akal. Awalnya, filsafat dianggap sebagai “ilmu asing”. Namun, perdebatan teologis dengan orang Kristen memaksa para cendekiawan Muslim untuk mempelajari logika Yunani guna mempertahankan argumen mereka.
Muncullah tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi dan Ibn Sina yang mencoba menggabungkan pemikiran Neoplatonisme dengan monoteisme Islam. Namun, pandangan mereka—seperti keyakinan bahwa alam semesta itu abadi (tidak diciptakan dari ketiadaan)—memicu kontroversi.
Hal ini memuncak pada kritik tajam dari Al-Ghazali, yang dalam bukunya menyerang argumen para filsuf tersebut dengan logika mereka sendiri. Setelah Al-Ghazali, fokus filsafat di dunia Islam Timur mulai meredup, namun api itu berpindah ke Barat, ke Spanyol.
Di Spanyol, sosok Ibn Rushd (Averroes) muncul sebagai pembela Aristoteles yang paling gigih. Ia berusaha memurnikan kembali ajaran Aristoteles dari pengaruh Neoplatonisme. Komentar-komentar Ibn Rushd terhadap karya Aristoteles inilah yang kelak “membangunkan” Eropa dari tidur panjangnya dan memicu kebangkitan intelektual di Barat.
Kesimpulan: Warisan yang Tak Terhapuskan
Jadi, apakah bangsa Arab hanya sekadar penyalin? Jawabannya adalah tidak. Mereka juga pemegang obor sejati. Mereka menjaga api ilmu pengetahuan tetap menyala ketika Eropa berada dalam kegelapan, dan juga menambahkan bahan bakar baru ke dalamnya.
Mereka melakukan eksperimen, menciptakan matematika baru, membangun rumah sakit canggih, dan mengkritisi teori-teori kuno. Tanpa kontribusi ilmuwan Arab, Muslim, Yahudi, dan Kristen yang bekerja di bawah payung peradaban Islam ini, sains dan filsafat Eropa mungkin tidak akan pernah berkembang seperti yang kita lihat dalam sejarah. Sejarah sains adalah sejarah kolaborasi manusia, dan pencapaian para ilmuwan Arab adalah salah satu yang paling berkilau di dalamnya.
Sumber Bacaan:
Watt, W. Montgomery. 1972. The Influence of Islam on Medieval Europe. Edinburgh: Edinburgh University Press.


