Babilonia: Peradaban yang Berbicara untuk Masa Depan
12/1/20255 min read


Kata Babel dalam Kitab Kejadian (XI, 9) dikaitkan dengan makna kekacauan (confusion). Istilah ini muncul dari narasi hukuman Tuhan terhadap umat manusia yang berambisi membangun menara yang puncaknya mencapai surga. Penyebutan ini menariknya juga menjadi referensi pertama mengenai sebuah kota di dalam Alkitab, yang kemudian mengaitkan Babel dengan konsep urbanisme, arsitektur monumental, dan ingatan historis. Meskipun meramalkan kehancuran bangsa Babilonia sebagai bangsa penindas, catatan biblikal justru membantu menjaga ingatan tentang Babilonia tetap hidup hingga para penjelajah pada era pasca-Renaisans membawa kembali bukti fisik berupa tulisan kuno, monumen, dan sisa-sisa kota.
Dalam konteks modern, kita menemukan fakta menyedihkan mengenai kondisi situs arkeologi di Irak saat ini. Konflik militer dan aktivitas penjarahan telah menyebabkan kehancuran situs-situs penting, hilangnya artefak dari koleksi museum, serta rusaknya perpustakaan akademik di Irak. Meskipun dokumen kuneiform (aksara paku) tergolong cukup kokoh dan mampu bertahan selama ribuan tahun di bawah pasir, ketidakstabilan politik saat ini sangat menghambat penggalian arkeologis. Di sisi lain, meskipun menghadapi tekanan pendanaan yang besar di universitas-universitas Barat, bidang minoritas seperti Asiriologi (kajian arkeologi tentang Asiria dan sebagian Mesopotamia) justru menunjukkan vitalitas baru dengan menyebar ke lembaga-lembaga akademik di Tiongkok, Jepang, Amerika Latin, dan Afrika Selatan.
Geografi dan Bentang Alam Mesopotamia Selatan
Secara geografis, Babilonia didefinisikan sebagai bagian selatan Mesopotamia, yang bermula dari titik di mana sungai Tigris dan Eufrat saling mendekat, membentuk wilayah sempit seperti “pinggang yang terjepit”. Di bagian paling selatan, wilayah ini berbatasan dengan rawa-rawa dan Teluk Persia. Perbedaan mendasar antara wilayah utara (Asyur) dan selatan (Babilonia) terletak pada aliran sungainya. Kota-kota Asyur umumnya berada di sepanjang Tigris sedangkan kota-kota Babilonia berada di sepanjang sungai Eufrat atau kanal-kanal perantaranya.
Bentang alam Babilonia sangat dipengaruhi oleh iklim yang panas dan kering, sehingga pertanian hanya mungkin dilakukan melalui sistem irigasi yang kompleks, yang terdiri dari jaringan kanal, tanggul, dan bendungan. Salah satu ciri khas pemandangan Babilonia selama ribuan tahun adalah keberadaan pohon kurma yang hanya tumbuh subur di sebelah selatan Baghdad. Kota Babilon sendiri terletak di tepi sungai Eufrat, sekitar 90 kilometer di selatan Baghdad modern, dan diperkirakan didirikan pada milenium ketiga. Nama aslinya, yang kemungkinan bukan berasal dari bahasa Semit, ditafsirkan oleh para sarjana kuneiform sebagai bab-il, yang berarti “gerbang dewa”.
Perjalanan Sejarah dan Dinasti-Dinasti Penting
Sejarah Babilonia merupakan bagian dari narasi panjang Mesopotamia yang berpusat pada kota Babilon. Beberapa tonggak sejarah penting meliputi:
Era Hammurabi: Cucu dari pemimpin Amorite, Sumu-abum, yaitu Hammurabi, berhasil menyatukan seluruh Mesopotamia selatan dan sebagian wilayah Eufrat tengah. Meskipun Dinasti Pertama Babilonia ini tidak bertahan lama, para penguasanya berhasil menciptakan keseragaman budaya dan administrasi yang didokumentasikan dengan sangat baik dalam sumber-sumber tekstual.
Akulturasi Budaya: Menariknya, meskipun para pemimpin Amorite adalah orang-orang Semit yang bermigrasi dari barat (wilayah Suriah), mereka dengan cepat mengadopsi cara hidup urban Babilonia, yang terlihat dari nama-nama mereka yang mencerminkan penerimaan terhadap praktik keagamaan setempat. Bahasa mereka, “Babilonia Lama”, akhirnya menggantikan bahasa Sumeria yang sebelumnya digunakan.
Dinasti Kassite: Kelompok imigran lain, bangsa Kassite dari timur (wilayah barat Iran), mengambil alih kendali politik dan memerintah selama hampir 500 tahun. Di bawah kekuasaan mereka, peradaban Babilonia terkristalisasi dan mencapai stabilitas yang relatif, di mana bahasa Babilonia menjadi bahasa internasional dalam diplomasi yang digunakan oleh bangsa Mesir, Het (di Turki), dan Mitanni (di utara Suriah).
Persaingan dengan Asyur: Pada milenium pertama, nasib Babilonia ditentukan oleh kebangkitan kekaisaran Asyur yang kuat. Meskipun mengakui status keagamaan dan keilmuan Babilonia, raja-raja Asyur tetap memaksakan kekuasaan mereka selama hampir dua abad, yang kemudian dilawan dengan sengit oleh bangsa Babilon melalui koalisi dengan Elam (di barat dan barat daya Iran) dan Media (di barat laut Iran).
Puncak Kejayaan dan Akhir Kemandirian: Di bawah kepemimpinan militer seperti Nebukadrezzar II, Babilonia mencapai puncak kemegahan dengan membangun tembok raksasa, jalan-jalan yang memukau, ziggurat (kuil raksasa) yang menjulang tinggi, dan kompleks kuil yang luas. Namun, kemandirian politik Babilonia berakhir ketika negara tersebut diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Persia.
Struktur Ekonomi dan Kehidupan Masyarakat
Perekonomian Babilonia sangat bergantung pada produktivitas pertanian. Struktur ekonominya berevolusi dari ekonomi oikos (rumah tangga besar) pada milenium keempat dan ketiga menjadi ekonomi upeti pada awal milenium kedua. Menariknya, terdapat pergeseran menuju privatisasi di mana lembaga besar seperti istana mulai bergantung pada sektor swasta untuk manajemen risiko dan dukungan manajerial. Munculnya perusahaan keluarga seperti firma Egibi pada abad keenam dan kelima SM menunjukkan detail yang luar biasa mengenai dunia elite bisnis Babilonia, lengkap dengan catatan pertikaian keluarga tersebut dan tantangan hukum mereka.
Dalam hal struktur sosial, masyarakat Babilonia bersifat hierarkis, dipimpin oleh seorang raja di puncaknya, diikuti oleh elite administratif dan eksekutif, rakyat biasa yang bergantung pada lembaga besar, dan di lapisan paling bawah adalah tawanan perang yang diperbudak. Terkait dengan posisi dan peran perempuan, berbagai kode hukum, surat, dan dokumen legal menunjukkan adanya klasifikasi, mulai dari perempuan kelas atas yang menikah, perempuan bebas yang tidak menikah (seperti janda, pendeta wanita, dan pelacur), hingga mereka yang menjadi budak.
Budaya Material, Makanan, dan Kehidupan Urban
Kehidupan urban di Babilonia tidak hanya mencakup ruang publik dan kediaman, tetapi juga tanah pertanian dan padang rumput yang dikelilingi oleh tembok kota. Penemuan unik lainnya adalah segel (stempel) silinder (cylinder seals), yang terkait erat dengan munculnya birokrasi kompleks dan urbanisme. Segel ini bukan hanya alat administrasi untuk akuntabilitas transaksi, tetapi juga mengungkapkan keyakinan agama, konsep kepemimpinan, mode pakaian, dan kepercayaan pada sifat magis mineral tertentu.
Fakta menarik lainnya berkaitan dengan pola konsumsi masyarakatnya:
Minuman Utama: Orang Babilonia adalah peminum bir. Bir dianggap sebagai pilihan yang aman di tengah kondisi kota yang tidak higienis karena terbuat dari air bersih dan bernutrisi.
Makanan: Tanah mereka menghasilkan berbagai sereal dan sayuran, terutama barli yang tahan garam dan kacang-kacangan yang kaya protein. Daging, dari domba hingga kura-kura, lebih banyak dinikmati oleh strata elite.
Perdagangan: Karena tanah aluvial mereka miskin logam dan mineral, Babilonia mengandalkan impor jarak jauh untuk tembaga, batu mulia, dan bahan aromatik. Sebaliknya, mereka mengekspor tekstil yang sangat berharga ke luar negeri.
Intelektual, Agama, dan Ilmu Pengetahuan
Pemisahan antara kehidupan religius dan intelektual tidak berlaku bagi orang Babilonia. Agama mereka ditandai dengan keberadaan kuil yang bertahan selama ribuan tahun sebagai landmark kota. Dewa utama mereka, Marduk (atau Bel), sangat erat kaitannya dengan kota Babilon, dan pemujaannya bertahan hingga periode Hellenistik (lebih daripada 200 tahun). Tokoh dewa menarik lainnya adalah Inanna/Ishtar, yang memiliki kepribadian kontradiktif: suka perang sekaligus penyayang, serta perwujudan hasrat seksual sekaligus ratu surga yang agung.
Di bidang ilmu pengetahuan dan kegaiban:
Ramalan: Orang Babilonia mengembangkan sistem peringatan dini yang sangat kompleks untuk memecahkan pesan tersembunyi dari para dewa mengenai masa depan. Para peramal adalah praktisi kuneiform yang paling terampil dan dihormati, yang memberikan nasihat kepada raja dan mempengaruhi jalannya sejarah.
Sihir dan Eksorsisme: Dalam teks Babilonia, penyihir dikonstruksikan sebagai kekuatan kosmik yang merasuki seseorang, yang hanya bisa dinetralkan melalui ritual panjang yang melibatkan seluruh kekuatan ilahiah.
Matematika dan Astronomi: Juru tulis (elite intelektual) Babilonia memiliki keterampilan matematika yang luar biasa pada masanya, menggunakan sistem numerik seksagesimal (basis 60) dan desimal. Di bidang astronomi, pengamatan fenomena langit yang teliti selama berabad-abad memungkinkan mereka membuat prediksi yang sangat akurat, yang oleh para sarjana modern dianggap sebagai metodologi ilmu pengetahuan yang sejati.
Hubungan Internasional dan Kesimpulan
Babilonia tidak berdiri sendiri. Ia berinteraksi dengan kekuatan-kekuatan besar lainnya seperti Mesir, di mana hubungan mereka berkembang dari hampir tidak ada konflik menjadi konfrontasi militer langsung pada milenium pertama. Meskipun bangsa Israel secara politik bukan musuh besar bagi Babilonia, para penulis Ibrani justru menjadi pihak yang paling mengesankan dalam menyampaikan situasi mereka saat berhadapan dengan kekuatan Babilonia.
Dari semua bangsa kuno, bangsa Babilonia adalah yang paling gigih dalam mencoba berkomunikasi dengan audiens mereka di masa depan. Mereka sering menyisipkan pesan dalam tablet-tablet mereka agar raja-raja di masa depan yang menemukan tablet-tablet tersebut di dalam pasir membacanya dengan cermat dan memperlakukannya dengan hormat.
Sumber Bacaan:
Leick, Gwendolyn (Editor). 2007. The Babylonian World. New York: Routledge.


